Jakarta, 30 Agustus 2026 – Nama Twitter kembali muncul di jagat media sosial setelah platform baru bernama Twitter.now resmi meluncur. Kehadiran platform ini menarik perhatian karena menggunakan kembali nama Twitter yang sebelumnya ditinggalkan setelah Elon Musk mengakuisisi Twitter pada 2022 dan mengubah namanya menjadi X. Twitter.now dikembangkan oleh startup bernama Operation Bluebird yang dipimpin salah satunya oleh Stephen Coates, mantan penasihat hukum Twitter. Platform tersebut kini hadir sebagai layanan media sosial baru yang secara terbuka mengambil posisi sebagai alternatif sekaligus pesaing X.
Kemunculan Twitter.now bukan sekadar upaya menghadirkan kembali tampilan media sosial lama. Operation Bluebird mengatakan mereka ingin membangun layanan baru yang berfokus pada kepercayaan, transparansi, dan memberikan lebih banyak kendali kepada pengguna. Konsep tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan media sosial yang mengandalkan algoritma untuk menentukan konten apa yang paling banyak muncul di lini masa pengguna. Twitter.now mencoba membuat pengguna memiliki peran lebih besar dalam menentukan jenis informasi yang ingin mereka lihat.
Dari sisi tampilan, Twitter.now memang sengaja menghadirkan nuansa yang mengingatkan pengguna pada Twitter sebelum berubah menjadi X. Warna biru kembali menjadi elemen utama, sementara logo burung juga digunakan dengan desain yang dibuat berbeda dari logo Twitter sebelumnya. Struktur layanan pun memiliki sejumlah fitur yang sudah tidak asing bagi pengguna media sosial, termasuk unggahan, balasan, dan fitur yang memungkinkan pengguna membagikan kembali sebuah postingan. Kemiripan tersebut membuat kehadirannya terasa seperti kembalinya identitas lama Twitter, meski secara perusahaan dan layanan Twitter.now bukan bagian dari X.
Salah satu fitur yang paling menarik perhatian adalah sistem pemeriksaan fakta berbasis kecerdasan buatan bernama VERA. Sistem ini dirancang untuk menganalisis unggahan dan memberikan konteks mengenai tingkat kepercayaan terhadap informasi yang muncul. Dengan pendekatan tersebut, pengguna diharapkan tidak hanya melihat sebuah unggahan berdasarkan jumlah interaksi atau popularitasnya, tetapi juga memperoleh informasi tambahan mengenai klaim yang terdapat di dalamnya. VERA menjadi salah satu bagian penting dari visi Operation Bluebird untuk menciptakan ruang digital yang dianggap lebih sehat dan tidak terlalu bergantung pada konten sensasional.
Konsep VERA kemudian dikembangkan lebih jauh dengan gagasan agar pengguna dapat menentukan sendiri batas tingkat kepercayaan konten yang ingin muncul di linimasa. Artinya, pengguna nantinya dapat memiliki kendali lebih besar terhadap informasi yang mereka konsumsi. Jika seseorang hanya ingin melihat unggahan yang memenuhi standar kepercayaan tertentu, sistem akan membantu menyaring konten berdasarkan preferensi tersebut. Pendekatan ini berbeda dengan model algoritma tradisional yang biasanya menentukan konten berdasarkan pola interaksi, minat, atau kemungkinan pengguna terus menggunakan platform.
Operation Bluebird menyebut pendekatan tersebut sebagai upaya memberikan kebebasan berbicara sekaligus membatasi jangkauan konten yang dianggap tidak dapat dipercaya atau berpotensi merugikan. Prinsipnya, seseorang tetap dapat menyampaikan pendapat selama tidak melanggar hukum, tetapi tidak berarti setiap unggahan harus mendapatkan jangkauan yang sama besar. Dengan demikian, Twitter.now mencoba memisahkan antara hak seseorang untuk berbicara dan mekanisme bagaimana sebuah konten disebarkan kepada pengguna lain.
Kehadiran Twitter.now juga tidak terlepas dari perjalanan panjang sengketa mengenai nama Twitter. Operation Bluebird berpendapat bahwa setelah Twitter diubah menjadi X, identitas dan sejumlah kekayaan intelektual lama Twitter telah ditinggalkan. Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar bagi startup itu untuk menggunakan kembali nama Twitter dalam layanan baru mereka. Namun, persoalan tersebut belum sepenuhnya selesai karena X Corporation telah menggugat Operation Bluebird dan mempersoalkan penggunaan nama serta identitas Twitter.
Perselisihan tersebut membuat peluncuran Twitter.now menjadi lebih menarik karena platform baru ini hadir ketika persoalan merek dagang masih berlangsung. Dalam persidangan pada April 2026, hakim federal di Delaware memang memberikan sejumlah komentar yang dinilai menguntungkan Operation Bluebird terkait klaim atas kata “tweet” dan logo burung. Namun, komentar tersebut belum menjadi putusan tertulis final yang menyatakan seluruh hak atas nama Twitter telah ditinggalkan oleh X. Artinya, status hukum penggunaan nama Twitter masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan melalui proses hukum.
Meski demikian, Operation Bluebird memilih tetap melanjutkan peluncuran. Twitter.now saat ini masih berada dalam tahap awal dan jumlah penggunanya masih sangat terbatas. Akses awal juga ditawarkan melalui skema berbayar dengan biaya sekitar US$20 untuk pengguna yang ingin mendapatkan akses lebih awal serta kesempatan memperoleh nama akun tertentu. Model tersebut menjadi cara bagi pengembang untuk menguji platform sebelum membukanya secara lebih luas kepada masyarakat.
Bagi pengguna yang pernah merasakan era Twitter sebelum berganti menjadi X, kehadiran Twitter.now tentu membawa unsur nostalgia. Konsep linimasa, unggahan pendek, balasan, serta nuansa biru membuat platform ini terasa familiar. Namun, Operation Bluebird menegaskan bahwa mereka tidak sekadar ingin membuat salinan Twitter lama. Mereka ingin menggunakan identitas yang dikenal masyarakat tersebut sebagai fondasi untuk membangun layanan dengan pendekatan berbeda, terutama dalam hal transparansi informasi dan kendali pengguna terhadap konten.
Tantangan terbesar Twitter.now tentu bukan hanya menarik perhatian publik, tetapi mempertahankan pengguna dalam jangka panjang. Media sosial membutuhkan komunitas yang aktif agar percakapan di dalamnya berkembang. Tanpa jumlah pengguna yang cukup, sebuah platform akan kesulitan menghadirkan konten yang beragam dan menarik. Twitter.now harus membuktikan bahwa konsep yang mereka tawarkan mampu membuat pengguna bertahan dan berinteraksi, bukan hanya datang karena rasa penasaran terhadap “kembalinya” nama Twitter.
Selain itu, persoalan hukum juga menjadi tantangan serius. X Corporation telah mengambil langkah hukum terhadap Operation Bluebird sehingga masa depan penggunaan nama Twitter pada platform tersebut masih belum sepenuhnya pasti. Apabila sengketa berkembang lebih jauh, Operation Bluebird harus mempertahankan argumen bahwa mereka memiliki dasar hukum untuk menggunakan identitas tersebut. Di sisi lain, X tetap memiliki kepentingan untuk mempertahankan hak atas merek yang berkaitan dengan Twitter. Perkembangan perkara tersebut dapat menentukan seberapa jauh Twitter.now dapat menggunakan identitas yang sekarang mereka tampilkan.
Terlepas dari sengketa tersebut, Twitter.now menawarkan gagasan yang cukup berbeda dalam persaingan media sosial. Platform ini mencoba menempatkan pengguna sebagai pihak yang lebih menentukan apa yang mereka lihat, bukan sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada algoritma. Sistem VERA menjadi bagian dari eksperimen tersebut dengan memberikan konteks dan penilaian terhadap informasi yang beredar. Jika konsep ini berhasil diterapkan dalam skala besar, Twitter.now berpotensi menjadi salah satu platform yang mencoba mengubah cara pengguna berinteraksi dengan informasi di media sosial.
Saat ini, Twitter.now masih berada pada tahap awal dan belum dapat disamakan dengan skala X maupun platform media sosial besar lainnya. Jumlah pengguna masih terbatas dan berbagai fitur juga masih dikembangkan. Namun, kemunculannya sudah cukup untuk menghidupkan kembali perbincangan mengenai identitas Twitter yang sempat menghilang setelah perubahan menjadi X. Apakah Twitter.now nantinya mampu menjadi pesaing serius atau hanya menjadi eksperimen singkat, masih harus dibuktikan melalui perkembangan pengguna, fitur, serta penyelesaian persoalan hukumnya.
Untuk saat ini, satu hal yang jelas adalah nama Twitter kembali digunakan dalam sebuah jejaring sosial baru. Twitter.now hadir bukan sebagai layanan milik X, melainkan sebagai proyek Operation Bluebird yang mencoba membangun alternatif dengan identitas lama dan pendekatan baru. Dengan menggabungkan nuansa Twitter klasik, sistem pemeriksaan fakta VERA, serta kendali pengguna terhadap konten, platform ini mencoba menawarkan pengalaman media sosial yang berbeda. Perjalanannya masih panjang, tetapi kemunculan Twitter.now telah membuat “burung biru” kembali menjadi salah satu topik menarik di dunia teknologi.





