Jakarta, 20 Oktober 2026 – Bencana tanah longsor melanda kawasan pertambangan emas ilegal di Kolombia dan mengakibatkan sedikitnya 14 orang meninggal dunia serta tujuh lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa tragis tersebut kembali menyoroti tingginya risiko keselamatan dalam aktivitas pertambangan tanpa izin yang masih berlangsung di sejumlah wilayah negara Amerika Selatan itu. Para korban diduga berada di sekitar lokasi penambangan ketika material tanah dan bebatuan tiba-tiba runtuh. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah pekerja tidak sempat menyelamatkan diri dari timbunan material longsor. Insiden ini menjadi pengingat mengenai bahaya aktivitas pertambangan yang dilakukan tanpa pengawasan keselamatan memadai.
Bencana tersebut memicu upaya penanganan darurat untuk mengevakuasi korban dan memastikan kondisi kawasan pertambangan. Proses penyelamatan di lokasi tambang memiliki tantangan tersendiri karena struktur tanah yang tidak stabil dapat meningkatkan risiko longsor susulan. Petugas harus mempertimbangkan keselamatan tim penyelamat sebelum memasuki area yang berpotensi mengalami pergerakan tanah. Sementara itu, korban luka membutuhkan pemeriksaan dan perawatan medis sesuai tingkat cedera yang dialami. Situasi di sekitar lokasi kejadian juga memerlukan pengawasan untuk mencegah bertambahnya korban. Penanganan darurat menjadi prioritas utama sebelum penyelidikan lebih lanjut dilakukan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (19/10/2026) di kawasan pedesaan Chambero, wilayah Santa Bárbara de Iscuandé, Departemen Nariño, Kolombia bagian barat daya. Kawasan ini berada di wilayah pesisir Pasifik yang memiliki bentang alam hutan lebat serta akses transportasi terbatas. Lokasi pertambangan dilaporkan merupakan tambang emas terbuka yang beroperasi tanpa izin resmi. Sekitar 30 pekerja diperkirakan berada di area tambang ketika longsor terjadi pada pagi hari waktu setempat. Material tanah yang runtuh menimbun sebagian area penambangan dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Gubernur Nariño, Luis Alfonso Escobar, menyatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi kejadian telah dinyatakan selesai. Pemerintah daerah sebelumnya mengerahkan upaya penanganan untuk membantu para korban dan masyarakat yang terdampak. Proses evakuasi menghadapi hambatan karena Santa Bárbara de Iscuandé berada di kawasan terpencil yang hanya dapat dijangkau menggunakan perahu atau pesawat kecil. Keterbatasan jalur transportasi tersebut mempersulit pengiriman bantuan serta mobilisasi petugas penyelamat. Selain kondisi geografis, situasi keamanan di wilayah sekitar juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan operasi kemanusiaan.
Pemerintah daerah Nariño meminta perhatian serius pemerintah pusat Kolombia terhadap keselamatan pekerja tambang ilegal dan pertambangan skala kecil. Escobar mendesak Badan Pertambangan Nasional serta Kementerian Pertambangan dan Energi untuk mempercepat proses formalisasi kegiatan pertambangan. Langkah tersebut dinilai penting agar aktivitas penambangan dapat berlangsung dengan pengawasan dan standar keselamatan yang lebih baik. Selama ini, sebagian kegiatan pertambangan informal berlangsung tanpa infrastruktur pengamanan yang memadai. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika aktivitas penggalian dilakukan pada tanah yang rentan mengalami pergerakan. Pemerintah daerah berharap pembenahan sektor pertambangan dapat mencegah terulangnya tragedi serupa.
Departemen Nariño merupakan salah satu wilayah Kolombia yang menghadapi persoalan kompleks terkait pertambangan ilegal. Kawasan yang berbatasan dengan Ekuador tersebut memiliki sumber daya mineral, tetapi sebagian kegiatan penambangan berlangsung di luar sistem perizinan resmi. Aktivitas pertambangan ilegal juga berkaitan dengan persoalan keamanan karena sejumlah kelompok bersenjata beroperasi di wilayah tersebut. Dalam beberapa kasus, perdagangan emas ilegal menjadi salah satu sumber pendanaan kelompok kriminal dan bersenjata. Situasi ini menyulitkan pemerintah dalam menjalankan pengawasan serta memberikan perlindungan kepada masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan pertambangan. Penanganannya membutuhkan pendekatan yang mencakup aspek keamanan, ekonomi, dan keselamatan kerja.
Tragedi di Santa Bárbara de Iscuandé bukan merupakan kecelakaan pertambangan pertama yang terjadi di Nariño dalam beberapa bulan terakhir. Pada Agustus 2026, sebanyak 13 orang meninggal dunia akibat kecelakaan serupa di kawasan pertambangan wilayah Policarpa. Dengan demikian, dua insiden tersebut telah menyebabkan sedikitnya 27 korban meninggal dunia dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan. Rangkaian kecelakaan ini memperlihatkan tingginya risiko yang dihadapi pekerja pada lokasi pertambangan tanpa pengawasan memadai. Struktur tanah yang tidak stabil, metode penggalian yang berbahaya, serta keterbatasan perlengkapan keselamatan menjadi sejumlah faktor risiko dalam kegiatan pertambangan informal. Kejadian berulang tersebut memperkuat desakan agar pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di kawasan rawan.
Bencana longsor yang menewaskan 14 orang ini kembali menempatkan persoalan keselamatan pertambangan ilegal sebagai perhatian penting di Kolombia. Selain menangani dampak langsung terhadap korban dan keluarga, pemerintah menghadapi tantangan untuk memperbaiki tata kelola pertambangan di wilayah terpencil. Penguatan pengawasan, peningkatan standar keselamatan, dan penyediaan jalur legal bagi penambang kecil menjadi langkah yang dinilai penting untuk mengurangi risiko kecelakaan. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas penambangan sebagai sumber penghidupan. Tragedi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertambangan ilegal tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran perizinan, tetapi juga menyangkut keselamatan manusia dan perlindungan lingkungan. Upaya pencegahan yang berkelanjutan diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan serupa di masa mendatang.





