Jakarta, 25 Mei 2026 – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan literasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang inklusif bagi penyandang disabilitas agar perkembangan teknologi digital dapat diakses secara setara oleh seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, transformasi digital yang berkembang sangat cepat tidak boleh meninggalkan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas yang memiliki hak sama untuk mendapatkan akses pendidikan, keterampilan, dan peluang kerja di era teknologi modern. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi AI dalam berbagai sektor mulai dari pendidikan, layanan publik, industri kreatif, hingga dunia kerja. Lestari menilai pemahaman mengenai AI kini menjadi kebutuhan penting karena teknologi tersebut diperkirakan akan semakin memengaruhi kehidupan masyarakat di masa depan. Oleh sebab itu, pendekatan inklusif dalam literasi digital dianggap penting agar tidak terjadi kesenjangan akses teknologi di tengah masyarakat.
Pengamat pendidikan digital menjelaskan bahwa perkembangan AI membawa peluang besar bagi penyandang disabilitas apabila didukung akses teknologi dan pelatihan yang tepat. Berbagai teknologi berbasis AI saat ini telah digunakan untuk membantu aktivitas sehari-hari penyandang disabilitas seperti pembaca layar otomatis, penerjemah suara ke teks, hingga sistem pengenalan visual untuk tunanetra. Namun di sisi lain, masih banyak tantangan terkait akses pendidikan teknologi, ketersediaan fasilitas pendukung, dan kemampuan masyarakat dalam memahami penggunaan AI secara optimal. Oleh sebab itu, penguatan literasi AI dinilai perlu dilakukan secara inklusif dengan mempertimbangkan kebutuhan berbagai kelompok masyarakat. Pendekatan seperti ini dianggap penting agar perkembangan teknologi benar-benar mampu memperluas kesempatan dan meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas.
Lestari Moerdijat juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, sektor teknologi, dan komunitas disabilitas dalam membangun ekosistem digital yang lebih ramah dan setara. Pengamat sosial menjelaskan bahwa transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan aksesibilitas layanan bagi seluruh masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, isu inklusi digital memang semakin mendapat perhatian karena masih adanya kesenjangan akses teknologi di berbagai kelompok sosial. Penyandang disabilitas disebut sering menghadapi hambatan tambahan dalam mengakses informasi dan teknologi akibat kurangnya desain layanan yang ramah aksesibilitas. Oleh sebab itu, literasi AI yang inklusif dinilai perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan digital nasional.
Selain akses pendidikan, peluang kerja di era AI juga menjadi perhatian penting dalam pembahasan literasi digital bagi penyandang disabilitas. Pengamat ketenagakerjaan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi berbasis AI akan mengubah pola kerja di banyak sektor sehingga keterampilan digital menjadi semakin dibutuhkan. Dengan pelatihan yang tepat, teknologi AI justru dapat membantu membuka peluang kerja baru yang lebih fleksibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas. Namun tanpa dukungan pendidikan dan akses teknologi yang memadai, kelompok rentan berisiko semakin tertinggal dalam persaingan dunia kerja modern. Oleh sebab itu, penguatan keterampilan digital sejak dini dinilai penting agar penyandang disabilitas dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Dorongan terhadap literasi AI yang inklusif menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap pentingnya pemerataan akses teknologi di era transformasi digital. Banyak pengamat menilai kecerdasan buatan akan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern sehingga pemahaman mengenai teknologi tersebut tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu saja. Di tengah perkembangan digital yang semakin pesat, prinsip inklusivitas dinilai harus menjadi dasar dalam pembangunan teknologi dan pendidikan nasional. Masyarakat berharap upaya memperluas literasi AI dapat membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih adil, terbuka, dan mudah diakses oleh semua kalangan termasuk penyandang disabilitas. Dengan dukungan kebijakan dan kolaborasi yang kuat, perkembangan teknologi AI diharapkan mampu menjadi sarana pemberdayaan sosial yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat Indonesia.




