Jakarta, 5 September 2026 – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memastikan aktivitas erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda belum menunjukkan potensi memicu tsunami seperti bencana yang terjadi pada Desember 2018. Hasil evaluasi menunjukkan tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah keruntuhan besar pada 2018 masih relatif kecil sehingga belum memiliki volume yang dinilai dapat mengalami longsoran dalam skala besar dan membangkitkan gelombang tsunami. Gunung tersebut saat ini masih mengalami proses pembentukan kubah lava baru di tengah aktivitas erupsi yang terus berlangsung. Meski risiko tsunami dari kondisi morfologi terkini dinilai rendah, PVMBG menegaskan aktivitas vulkanik Anak Krakatau tetap tinggi dan harus diwaspadai. Status gunung juga masih dipertahankan pada Level III atau Siaga dengan radius bahaya sejauh tiga kilometer dari pusat aktivitas. Masyarakat pesisir, nelayan, wisatawan, dan pelaku pelayaran diminta tetap mengikuti informasi resmi karena kondisi gunung api dapat mengalami perubahan berdasarkan perkembangan aktivitas vulkanik.
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati menjelaskan evaluasi terhadap potensi tsunami dilakukan dengan memperhatikan perkembangan tubuh Gunung Anak Krakatau setelah perubahan morfologi besar yang terjadi pada 22 Desember 2018. Pada saat itu, sebagian tubuh gunung mengalami keruntuhan ke laut dan memicu tsunami yang menerjang kawasan pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk meningkatkan pemantauan terhadap perubahan bentuk tubuh Anak Krakatau. Berdasarkan pemantauan terkini, pertumbuhan tubuh gunung yang terbentuk kembali belum mencapai kondisi yang dapat mengalami keruntuhan dalam skala seperti peristiwa sebelumnya. Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menghubungkan setiap erupsi Anak Krakatau dengan kemungkinan terjadinya tsunami. Namun, evaluasi terhadap perubahan morfologi tetap dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari mitigasi risiko jangka panjang.
Aktivitas terbaru Anak Krakatau sendiri menunjukkan dinamika yang cukup tinggi sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Erupsi menerus dilaporkan berlangsung mulai Jumat, 4 September 2026, sekitar pukul 23.07 WIB dan masih teramati hingga Sabtu sekitar pukul 04.40 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh yang dapat didengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di Pasauran, Banten. Tinggi kolom erupsi tidak dapat teramati secara jelas dalam periode tertentu, tetapi semburan berwarna merah menyala terlihat terus-menerus dari arah gunung. Fenomena tersebut berkaitan dengan erupsi tipe Strombolian yang dapat menghasilkan lontaran material pijar, abu vulkanik, dan semburan lava. Aktivitas semacam itu telah berulang selama periode peningkatan aktivitas Anak Krakatau dalam beberapa waktu terakhir.
Badan Geologi mencatat seri erupsi tipe Strombolian Anak Krakatau terus menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik. Dalam kondisi tertentu, aktivitas tersebut dapat berkembang menjadi aliran lava apabila suplai magma menuju permukaan terus berlangsung. Pemantauan pada periode sebelumnya juga menunjukkan keberadaan sinar api di sekitar kawah serta peningkatan sejumlah parameter kegempaan yang berkaitan dengan pergerakan magma dangkal. Kondisi tersebut menjadi alasan aktivitas gunung tetap dipantau secara intensif meskipun potensi tsunami dari pertumbuhan tubuh gunung saat ini dinilai belum signifikan. Ancaman langsung yang lebih perlu diperhatikan masyarakat adalah lontaran material vulkanik di sekitar pusat erupsi. Karena itu, larangan mendekati gunung dalam radius yang telah ditentukan tetap diberlakukan secara ketat.
Aktivitas erupsi Anak Krakatau juga dikaitkan dengan laporan suara dentuman dan getaran yang terdengar di sejumlah wilayah Banten, Lampung, hingga Jawa Barat. Badan Geologi menyatakan waktu munculnya laporan tersebut bertepatan dengan berlangsungnya erupsi menerus Anak Krakatau sehingga terdapat dugaan hubungan antara keduanya. Suara gemuruh dari aktivitas vulkanik memang dapat merambat cukup jauh bergantung pada kekuatan letusan serta kondisi atmosfer pada saat kejadian. Meski demikian, evaluasi tetap diperlukan untuk memastikan sumber setiap suara yang dilaporkan masyarakat karena dentuman dapat berasal dari berbagai fenomena. Pemantauan seismik menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk membedakan aktivitas vulkanik dengan kejadian gempa tektonik. Masyarakat diminta tidak menyebarkan spekulasi mengenai sumber dentuman sebelum terdapat penjelasan berdasarkan hasil pemantauan resmi.
Peristiwa tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 menjadi alasan kekhawatiran masyarakat mudah muncul ketika aktivitas Anak Krakatau meningkat. Tsunami ketika itu berbeda dengan sebagian besar tsunami di Indonesia yang dipicu oleh gempa tektonik bawah laut. Gelombang besar muncul setelah sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut ketika aktivitas vulkanik sedang berlangsung. Material dalam jumlah besar yang masuk ke perairan menyebabkan perpindahan massa air secara cepat dan menghasilkan gelombang yang kemudian mencapai pesisir Banten dan Lampung. Karena mekanisme tersebut tidak membutuhkan gempa tektonik besar, masyarakat pesisir ketika itu memiliki waktu peringatan yang sangat terbatas. Pengalaman tersebut kemudian mendorong peningkatan sistem pemantauan terhadap perubahan bentuk gunung dan kondisi muka air laut di sekitar Selat Sunda.
Kondisi Anak Krakatau saat ini dinilai berbeda karena tubuh gunung yang terbentuk setelah keruntuhan 2018 masih memiliki ukuran relatif kecil. Kubah lava baru memang terus berkembang seiring aktivitas magma, tetapi hasil evaluasi terkini belum menunjukkan volume material yang dapat mengalami keruntuhan besar hingga menghasilkan tsunami seperti delapan tahun lalu. PVMBG terus mengamati pertumbuhan tersebut menggunakan pemantauan visual, instrumental, dan berbagai metode lain untuk mengetahui perubahan morfologi dari waktu ke waktu. Setiap perubahan signifikan akan menjadi bahan evaluasi terhadap tingkat aktivitas maupun rekomendasi keselamatan. Dengan demikian, pernyataan bahwa kondisi saat ini belum berpotensi memicu tsunami tidak berarti risiko tersebut dapat diabaikan untuk jangka panjang. Penilaian akan terus diperbarui mengikuti perkembangan struktur dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
BMKG juga terus melakukan pemantauan kondisi muka air laut dan aktivitas tektonik di sekitar Selat Sunda sebagai bagian dari mitigasi tsunami nontektonik. Pengawasan dilakukan menggunakan jaringan sensor seismik dan perangkat pemantauan muka air laut serta melalui koordinasi dengan PVMBG dan lembaga terkait. Hingga evaluasi terakhir, belum ditemukan perubahan muka air laut yang menunjukkan telah terjadi tsunami akibat aktivitas terbaru Anak Krakatau. Pemantauan tersebut tetap penting karena potensi bahaya sekunder gunung api dapat berbeda dari ancaman erupsi secara langsung. Selain longsoran material ke laut, aktivitas vulkanik juga dapat menghasilkan lontaran batu pijar, hujan abu, aliran lava, awan panas, dan berbagai bahaya lain tergantung karakter erupsi. Masyarakat pesisir karena itu tetap perlu memahami jalur serta lokasi evakuasi sebagai bagian dari kesiapsiagaan apabila suatu saat terdapat peringatan resmi.
Status Gunung Anak Krakatau hingga Sabtu masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, pendaki, dan nelayan dilarang memasuki maupun melakukan kegiatan dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung. Rekomendasi tersebut tidak berubah setelah erupsi terbaru karena hasil evaluasi belum menunjukkan kondisi yang mengharuskan perluasan radius bahaya. Meski demikian, larangan tiga kilometer harus dipatuhi karena lontaran batu pijar dan material vulkanik dapat membahayakan siapa pun yang berada terlalu dekat dengan pusat erupsi. Aktivitas pelayaran dan wisata di sekitar kawasan juga perlu menyesuaikan dengan rekomendasi yang diberikan petugas. Pengamatan Anak Krakatau dilakukan antara lain melalui pos pengamatan di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Serang, sehingga perubahan aktivitas dapat terus dicatat dari dua sisi Selat Sunda.
Pemerintah daerah di wilayah pesisir juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dinamika aktivitas Anak Krakatau. BPBD Lampung Selatan meminta masyarakat tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi perubahan kondisi gunung yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Pemantauan pada akhir Agustus menunjukkan aktivitas magma dangkal masih tinggi sehingga peluang terjadinya erupsi susulan tetap harus diperhitungkan. Ancaman utama dalam kondisi sekarang berupa lontaran batu pijar dan hujan abu, sedangkan peningkatan kekuatan letusan dapat membuka kemungkinan munculnya aliran lava maupun awan panas. Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung untuk menyaksikan erupsi secara langsung karena perubahan intensitas letusan dapat terjadi dalam waktu relatif singkat. Informasi mengenai perkembangan aktivitas juga sebaiknya diperoleh melalui saluran pemerintah dan lembaga kebencanaan agar masyarakat tidak terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Kepastian bahwa erupsi terbaru belum berpotensi menghasilkan tsunami seperti 2018 diharapkan dapat meredakan kekhawatiran masyarakat tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap aktivitas Anak Krakatau. PVMBG menegaskan pertumbuhan tubuh gunung saat ini masih relatif kecil dan belum menunjukkan kemungkinan keruntuhan dalam skala yang dapat membangkitkan gelombang besar. Namun, proses pembentukan kubah lava baru masih berlangsung sehingga perubahan morfologi gunung tetap menjadi salah satu parameter yang diawasi secara intensif. Status Siaga dan larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer juga tetap diberlakukan sebagai langkah perlindungan terhadap bahaya erupsi langsung. Masyarakat pesisir Banten dan Lampung pada saat yang sama tetap dianjurkan memahami prosedur evakuasi sebagai bentuk kesiapsiagaan terhadap segala kemungkinan. Dengan pemantauan vulkanik dan kondisi laut yang dilakukan secara berkelanjutan, setiap perubahan yang meningkatkan risiko diharapkan dapat diketahui sedini mungkin sehingga langkah mitigasi dapat segera dilakukan.





