Jakarta, 10 Mei 2026 – Tradisi mengenakan pakaian hitam saat melayat atau menghadiri upacara duka telah lama dikenal di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Warna hitam identik dengan suasana berkabung karena dianggap melambangkan kesedihan, penghormatan, dan rasa kehilangan terhadap orang yang telah meninggal dunia.
Penggunaan pakaian hitam dalam tradisi berkabung sebenarnya memiliki sejarah panjang yang berkembang dari budaya Eropa pada masa lampau. Dalam sejarahnya, warna hitam mulai banyak digunakan sebagai simbol duka oleh kalangan bangsawan dan kerajaan, terutama pada era abad pertengahan hingga zaman Victoria di Inggris.
Salah satu tokoh yang disebut memperkuat tradisi tersebut adalah Ratu Victoria. Setelah wafatnya suaminya, Pangeran Albert, Ratu Victoria diketahui mengenakan pakaian hitam dalam waktu yang sangat lama sebagai simbol kesedihan mendalam. Tradisi itu kemudian memengaruhi masyarakat luas dan menyebar ke berbagai negara.
Pengamat budaya menjelaskan bahwa warna hitam dipilih karena dianggap merepresentasikan suasana muram, kehilangan, dan penghormatan. Selain itu, warna hitam juga dinilai sederhana dan tidak mencolok sehingga cocok digunakan dalam situasi penuh duka.
Di Indonesia sendiri, penggunaan pakaian hitam saat melayat tidak selalu bersifat wajib, namun telah menjadi kebiasaan sosial yang cukup umum. Masyarakat biasanya memilih pakaian berwarna gelap atau netral sebagai bentuk empati dan penghormatan kepada keluarga yang sedang berduka.
Pengamat sosial menilai tradisi berpakaian saat melayat sebenarnya berkaitan erat dengan norma kesopanan dan etika sosial. Tujuannya bukan sekadar mengikuti warna tertentu, tetapi menunjukkan rasa hormat dan menjaga suasana agar tetap tenang serta tidak berlebihan.
Meski hitam menjadi warna yang paling identik dengan duka, beberapa budaya di dunia memiliki tradisi berbeda. Di sejumlah negara Asia, warna putih justru digunakan sebagai simbol berkabung dan penghormatan kepada orang meninggal.
Dalam perkembangan modern, aturan berpakaian saat melayat menjadi lebih fleksibel. Namun masyarakat tetap dianjurkan mengenakan pakaian yang sopan, sederhana, dan tidak terlalu mencolok sebagai bentuk penghormatan terhadap suasana duka.
Pengamat budaya juga menjelaskan bahwa simbol warna dalam tradisi berkabung mencerminkan nilai sosial dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, kebiasaan memakai pakaian hitam saat melayat masih bertahan hingga sekarang meski zaman terus berubah.
Tradisi tersebut pada akhirnya bukan hanya soal warna pakaian, melainkan bentuk penghormatan, empati, dan solidaritas sosial kepada keluarga yang sedang mengalami kehilangan orang tercinta.





