Jakarta, 8 September 2026 – Masyarakat yang mengalami paparan abu vulkanik pada mata diingatkan untuk tidak langsung mengucek atau menggosok mata meskipun muncul rasa gatal, perih, atau seperti ada benda asing. Partikel abu vulkanik dapat memiliki permukaan kasar dan bersifat abrasif sehingga gesekan ketika mata dikucek berpotensi memperparah iritasi pada permukaan mata. Risiko menjadi lebih besar ketika partikel terperangkap di antara kelopak dan permukaan bola mata, kemudian bergesekan berulang kali. Kondisi tersebut dapat menyebabkan mata merah, berair, sensasi terbakar hingga lecet pada kornea apabila paparan cukup berat. Karena itu, tindakan pertama yang lebih aman adalah membilas mata secara perlahan menggunakan air bersih atau cairan steril untuk membantu mengeluarkan partikel yang masuk.
Dokter spesialis mata mengingatkan abu vulkanik bukan sekadar debu biasa karena materialnya dapat terdiri atas partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil. Ketika partikel tersebut mengenai permukaan mata, tubuh secara alami dapat merespons dengan meningkatkan produksi air mata sebagai mekanisme untuk membersihkan benda asing. Sensasi mengganjal yang muncul sering kali membuat seseorang secara refleks mengucek mata, padahal tindakan tersebut justru perlu dihindari. Gesekan mekanis dapat membuat partikel yang semula hanya berada di permukaan bergerak dan menggores lapisan terluar kornea. Jika terjadi abrasi kornea, keluhan dapat berkembang menjadi nyeri yang lebih kuat, mata terus berair, sulit membuka mata, hingga meningkatnya sensitivitas terhadap cahaya.
Langkah awal ketika abu masuk ke mata adalah menjauh terlebih dahulu dari lingkungan yang masih dipenuhi partikel agar paparan tambahan dapat dihentikan. Mata kemudian dapat dibilas menggunakan air bersih yang mengalir secara lembut atau larutan pencuci mata yang aman, sambil membiarkan partikel keluar bersama cairan. Saat proses pembilasan, mata dapat dikedipkan secara perlahan sehingga air membantu membersihkan bagian permukaan dan sekitar kelopak. Tangan juga sebaiknya dicuci sebelum menyentuh area sekitar wajah untuk mencegah masuknya kotoran lain ke mata yang sedang mengalami iritasi. Hal terpenting adalah tidak mencoba mengeluarkan partikel dengan menggosok, mengorek menggunakan jari, tisu, kapas, atau benda lain karena tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko cedera.
Pengguna lensa kontak perlu memberikan perhatian lebih ketika berada di lingkungan yang terdampak abu vulkanik. Partikel dapat terperangkap di antara lensa kontak dan permukaan mata sehingga meningkatkan gesekan serta memperpanjang paparan pada kornea. Karena itu, penggunaan lensa kontak sebaiknya dihindari selama kondisi udara masih mengandung abu dan masyarakat dapat beralih sementara menggunakan kacamata. Apabila seseorang sedang memakai lensa kontak ketika abu masuk ke mata, lensa perlu dilepas dengan tangan yang telah dibersihkan sebelum mata dibilas secara menyeluruh. Lensa yang telah terpapar abu juga tidak sebaiknya langsung dipasang kembali sebelum dipastikan bersih dan kondisi mata telah kembali normal.
Tidak semua paparan abu pada mata menyebabkan cedera serius karena sebagian keluhan ringan dapat membaik setelah mata dibersihkan dan tidak lagi terpapar. Namun, masyarakat perlu mengenali tanda yang membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan, terutama apabila rasa sakit tidak berkurang setelah pembilasan. Penglihatan kabur, mata sangat merah, sulit membuka kelopak, sensitif berlebihan terhadap cahaya, keluar cairan tidak normal, atau sensasi benda asing yang terus bertahan menjadi alasan untuk segera mencari pertolongan medis. Keluhan tersebut dapat mengindikasikan masih adanya partikel yang tertinggal atau terjadinya cedera pada permukaan mata. Pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk memastikan kondisi kornea dan menentukan apakah pasien membutuhkan pengobatan lebih lanjut.
Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif ketika abu vulkanik masih berada di udara. Masyarakat dianjurkan membatasi kegiatan di luar ruangan apabila tidak memiliki keperluan mendesak dan memastikan pintu serta jendela tertutup untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah. Jika harus keluar, penggunaan kacamata pelindung yang menutup area mata lebih rapat dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan partikel. Kacamata biasa masih memberikan penghalang fisik tertentu, tetapi perlindungannya tidak sebaik goggles karena abu tetap dapat masuk melalui bagian samping, atas, atau bawah. Perlindungan mata juga perlu dikombinasikan dengan masker yang mempunyai kemampuan filtrasi memadai untuk mengurangi risiko partikel terhirup melalui saluran pernapasan.
Kewaspadaan juga diperlukan ketika masyarakat membersihkan endapan abu di rumah, kendaraan, halaman maupun lingkungan tempat tinggal. Aktivitas menyapu abu dalam kondisi kering dapat membuat partikel kembali beterbangan sehingga meningkatkan kemungkinan masuk ke mata dan saluran pernapasan. Karena itu, metode pembersihan perlu dilakukan secara hati-hati dengan mengikuti petunjuk otoritas setempat dan menghindari aktivitas yang menghasilkan kepulan debu berlebihan. Kacamata pelindung, masker, pakaian lengan panjang dan sarung tangan dapat digunakan ketika proses pembersihan tidak dapat dihindari. Setelah kegiatan selesai, tubuh dan pakaian perlu dibersihkan agar partikel yang menempel tidak kembali tersebar ke dalam ruangan atau mengenai wajah.
Anak-anak, lanjut usia, pengguna lensa kontak, serta orang yang sebelumnya mempunyai gangguan atau sensitivitas pada mata perlu mendapatkan perhatian lebih selama terjadi paparan abu vulkanik. Anak-anak khususnya perlu diawasi karena mereka dapat secara spontan mengucek mata ketika merasa gatal atau tidak nyaman. Orang tua dapat membantu dengan segera membawa anak masuk ke ruangan yang lebih terlindungi dan melakukan pembilasan apabila terdapat kemungkinan abu mengenai mata. Apabila keluhan tidak segera mereda atau anak mengeluhkan gangguan penglihatan dan nyeri yang kuat, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda. Penanganan yang cepat dapat membantu mencegah iritasi ringan berkembang menjadi masalah yang lebih serius akibat gesekan maupun partikel yang masih tertinggal pada mata.
Pesan utama ketika menghadapi paparan abu vulkanik pada mata adalah menahan keinginan untuk mengucek meskipun rasa mengganjal terasa mengganggu. Mata sebaiknya segera dibilas dengan air bersih atau cairan steril dalam jumlah memadai, sementara paparan berikutnya dihentikan dengan berpindah ke lingkungan yang lebih terlindungi. Penggunaan goggles ketika harus beraktivitas di luar ruangan dapat membantu mencegah kejadian serupa, terutama saat konsentrasi abu masih cukup tinggi. Apabila setelah dibersihkan mata tetap terasa sakit, penglihatan berubah atau muncul tanda iritasi berat, pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk memastikan tidak terjadi luka pada kornea. Langkah sederhana berupa tidak mengucek dan segera membilas mata menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko cedera akibat partikel abu vulkanik.





