Jakarta, 21 September 2026 – Arsari Group melalui PT Nations Petroleum ditetapkan sebagai pemenang lelang penawaran langsung Wilayah Kerja (WK) Migas Natuna D-Alpha di Kepulauan Riau. Penetapan tersebut menjadi bagian dari hasil Lelang Wilayah Kerja Migas Tahap I 2026 yang diumumkan pemerintah. PT Nations Petroleum merupakan perusahaan migas yang berada di bawah kelompok usaha milik Hashim Djojohadikusumo. Perusahaan memberikan komitmen pasti untuk tiga tahun pertama senilai US$103,309 juta atau sekitar Rp1,83 triliun. Selain itu, perusahaan memberikan bonus tanda tangan sebesar US$200 ribu. Masuknya investor baru diharapkan dapat membuka kembali peluang pengembangan salah satu wilayah gas terbesar yang dimiliki Indonesia.
Komitmen tiga tahun pertama PT Nations Petroleum mencakup sejumlah kegiatan eksplorasi dan persiapan pengembangan. Program tersebut meliputi tiga paket studi geologi dan geofisika serta akuisisi dan pemrosesan data seismik tiga dimensi seluas 591 kilometer persegi. Perusahaan juga berkomitmen melakukan Pilot Unit Design and Engineering serta tiga paket studi terintegrasi mengenai karbon dioksida. Kegiatan lainnya mencakup Manufacturing, Procurement and Construction serta dua paket EPC Design Cost. Dalam program eksplorasi, satu sumur appraisal dan satu sumur eksplorasi juga direncanakan untuk dibor. Seluruh kegiatan tersebut menjadi bagian penting untuk memperoleh gambaran lebih akurat mengenai potensi sekaligus tantangan pengembangan Natuna D-Alpha.
WK Natuna D-Alpha berada di lepas pantai Natuna Timur dan memiliki luas sekitar 10.291 kilometer persegi. Wilayah tersebut sebelumnya merupakan bagian dari Blok East Natuna yang telah dikenal selama puluhan tahun memiliki sumber daya gas dalam jumlah sangat besar. Potensi gas di kawasan East Natuna diperkirakan mencapai sekitar 222 triliun kaki kubik. Namun, volume gas yang berpotensi dapat dieksploitasi diperkirakan jauh lebih rendah karena karakteristik reservoir yang kompleks. Natuna D-Alpha sendiri telah menjadi perhatian industri migas sejak kawasan tersebut ditemukan pada dekade 1970-an. Berbagai rencana pengembangan sebelumnya belum berhasil membawa lapangan tersebut memasuki tahap produksi komersial secara penuh.
Salah satu tantangan terbesar pengembangan Natuna D-Alpha adalah kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi, yakni lebih dari 70 persen. Kondisi tersebut membuat produksi gas membutuhkan teknologi khusus untuk memisahkan sekaligus menangani karbon dioksida secara aman. Gas yang dapat dimanfaatkan dari kawasan East Natuna diperkirakan sekitar 46 triliun kaki kubik setelah mempertimbangkan tingginya kandungan CO2. Pengembangan proyek karena itu membutuhkan investasi besar serta teknologi yang berbeda dibandingkan lapangan gas konvensional. Penanganan karbon juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan kemungkinan penerapan teknologi penangkapan serta penyimpanan karbon. Faktor inilah yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu kendala utama dalam merealisasikan pengembangan lapangan tersebut.
Natuna D-Alpha sebelumnya telah menarik perhatian sejumlah perusahaan energi besar, tetapi pengembangannya mengalami berbagai perubahan. Lapangan tersebut pernah masuk dalam rencana pengembangan bersama perusahaan internasional sebelum sejumlah investor meninggalkan proyek karena pertimbangan teknis dan keekonomian. Pertamina juga pernah terlibat dalam upaya pengembangan sebelum wilayah tersebut kembali ditawarkan pemerintah. Penetapan Nations Petroleum menjadi kesempatan baru untuk menguji kembali keekonomian proyek dengan perkembangan teknologi migas saat ini. Tahapan awal akan sangat bergantung pada hasil studi geologi, data seismik dan pengeboran sumur yang direncanakan. Dari hasil tersebut nantinya dapat diperoleh gambaran mengenai skema pengembangan yang paling memungkinkan untuk diterapkan.
Pemerintah menetapkan enam wilayah kerja migas dalam lelang tahap pertama 2026 dengan total komitmen pasti mencapai US$141,51 juta. Dari jumlah tersebut, komitmen PT Nations Petroleum untuk Natuna D-Alpha menjadi bagian terbesar dengan nilai lebih dari US$103 juta selama tiga tahun pertama. Pengembangan wilayah tersebut memiliki arti strategis karena Indonesia membutuhkan tambahan cadangan untuk menjaga produksi migas dan memenuhi kebutuhan energi nasional. Meski demikian, kemenangan lelang masih menjadi tahap awal dari proses panjang sebelum gas Natuna D-Alpha dapat diproduksi secara komersial. Perusahaan harus membuktikan potensi lapangan sekaligus menemukan solusi teknis dan ekonomis untuk menangani kandungan CO2 yang sangat tinggi. Keberhasilan program eksplorasi tiga tahun pertama akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pengembangan Natuna D-Alpha selanjutnya.





